Berat Badan Naik Sama, Lemak Bisa Tersimpan Berbeda: Apa Pengaruh Jenis Lemak?
10 Agustus 2026 · Oleh Info Dari Saya
Berat badan yang naik dalam jumlah hampir sama ternyata belum tentu menghasilkan perubahan komposisi tubuh yang sama. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa jenis lemak yang dikonsumsi saat surplus kalori dapat memengaruhi penumpukan lemak di hati, lemak visceral, dan jaringan tubuh lainnya.

Angka di timbangan bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan ketika berat badan bertambah. Dua orang bisa mengalami kenaikan berat badan yang hampir sama, tetapi perubahan yang terjadi di dalam tubuh mereka belum tentu identik.
Topik ini salah satunya dibahas dalam sebuah postingan Instagram yang menjadi inspirasi artikel ini. Postingan tersebut mengangkat sebuah penelitian mengenai bagaimana jenis lemak yang dikonsumsi saat surplus kalori dapat memberikan efek berbeda terhadap penyimpanan lemak tubuh.
Penelitian yang dirujuk berjudul Overfeeding Polyunsaturated and Saturated Fat Causes Distinct Effects on Liver and Visceral Fat Accumulation in Humans. Studi oleh Fredrik Rosqvist dan rekan-rekannya tersebut diterbitkan dalam jurnal Diabetes pada 2014.
Membandingkan Lemak Jenuh dan Tak Jenuh Ganda
Penelitian yang dikenal sebagai LIPOGAIN tersebut merupakan randomized controlled trial dengan desain double-blind yang melibatkan 39 orang muda dengan berat badan normal.
Selama tujuh minggu, peserta mendapatkan makanan tambahan berupa muffin untuk menciptakan kondisi surplus kalori. Namun, sumber lemak pada muffin dibedakan menjadi dua kelompok.
Satu kelompok mendapatkan muffin tinggi saturated fatty acids (SFA) atau lemak jenuh, dengan sumber utama dari minyak sawit. Kelompok lainnya mendapatkan muffin tinggi n-6 polyunsaturated fatty acids (PUFA) atau lemak tak jenuh ganda, yang berasal dari minyak bunga matahari.
Para peneliti kemudian menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) untuk mengukur berbagai perubahan pada tubuh, termasuk lemak hati, lemak visceral, lemak subkutan di area perut, total jaringan lemak, lemak pankreas, dan lean tissue.
Berat Badan Naik Serupa, tetapi Komposisinya Berbeda
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua kelompok mengalami kenaikan berat badan yang relatif serupa.
Namun, perubahan komposisi dan distribusi jaringan tubuh ternyata berbeda.
Kelompok yang mendapatkan surplus kalori tinggi lemak jenuh mengalami peningkatan lemak hati yang lebih besar dibandingkan kelompok PUFA. Peningkatan visceral adipose tissue atau lemak visceral pada kelompok lemak jenuh juga sekitar dua kali lebih besar dibandingkan kelompok PUFA.
Sebaliknya, kelompok yang mengonsumsi makanan tambahan tinggi PUFA mengalami peningkatan lean tissue hampir tiga kali lebih besar dibandingkan kelompok lemak jenuh.
Temuan ini menunjukkan bahwa jumlah kenaikan berat badan saja belum tentu menggambarkan secara lengkap apa yang sebenarnya berubah di dalam tubuh.
Mengapa Lemak Visceral dan Lemak Hati Menjadi Perhatian?
Lemak tubuh tidak hanya dapat tersimpan di bawah kulit. Lemak juga dapat terakumulasi di sekitar organ dalam maupun pada organ seperti hati.
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menyoroti ectopic fat, yaitu penyimpanan lemak pada jaringan atau organ yang bukan merupakan tempat utama penyimpanan lemak tubuh.
Akumulasi lemak ektopik dan visceral yang berlebihan menjadi perhatian karena berkaitan dengan berbagai gangguan metabolik. Karena itu, ketika membicarakan kenaikan berat badan, bukan hanya jumlah kilogram yang bertambah yang perlu diperhatikan, tetapi juga bagaimana komposisi dan distribusi jaringan tubuh berubah.
Apakah Lemak Jenuh Pasti Menjadi Lemak Organ?
Tidak sesederhana itu.
Hasil penelitian ini bukan berarti setiap makanan yang mengandung lemak jenuh otomatis berubah menjadi lemak visceral atau lemak hati. Begitu pula dengan PUFA yang tidak berarti seluruh kalorinya hanya akan tersimpan sebagai lemak di bawah kulit atau lean tissue.
Penelitian ini secara khusus membandingkan respons tubuh terhadap surplus energi dengan komposisi asam lemak yang berbeda dalam kondisi eksperimen tertentu.
Pesertanya juga terbatas pada 39 individu muda dengan berat badan normal dan intervensinya berlangsung selama tujuh minggu. Oleh karena itu, hasil penelitian tersebut tidak dapat langsung digeneralisasikan kepada setiap orang dan setiap pola makan.
Hal ini penting karena penyederhanaan seperti “lemak sehat masuk ke bawah kulit, sedangkan lemak jenuh masuk ke organ” dapat membuat hasil penelitian terdengar lebih mutlak daripada yang sebenarnya ditemukan.
Timbangan Tidak Menceritakan Seluruh Kondisi Tubuh
Penelitian LIPOGAIN memberikan gambaran menarik bahwa dua pola surplus kalori dapat menghasilkan kenaikan berat badan yang serupa, tetapi perubahan komposisi tubuh yang berbeda.
Dalam penelitian ini, surplus kalori tinggi lemak jenuh menghasilkan peningkatan lemak hati dan visceral yang lebih besar dibandingkan surplus tinggi PUFA. Sementara itu, kelompok PUFA mengalami pertambahan lean tissue yang lebih besar.
Artinya, angka pada timbangan memang memberikan informasi mengenai perubahan berat badan, tetapi angka tersebut tidak dapat menunjukkan secara langsung di mana jaringan bertambah dan bagaimana komposisi tubuh berubah.
Bagi seseorang yang sedang berusaha menaikkan berat badan, temuan ini juga menjadi pengingat bahwa mengejar surplus kalori saja belum memberikan gambaran lengkap. Komposisi makanan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut juga patut diperhatikan.
Artikel ini terinspirasi dari sebuah konten Instagram mengenai pengaruh jenis lemak terhadap distribusi lemak tubuh. Informasi di dalam artikel kemudian dikembangkan dan diverifikasi berdasarkan penelitian ilmiah yang menjadi rujukan pembahasan tersebut.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti diagnosis, saran medis, maupun konsultasi dengan tenaga kesehatan.